Beragam cara dilakukan
untuk kegiatan sosial. Salah satunya yang dilakukan oleh komunitas silver
peduli. Komunitas yang bergerak dibidang amal untuk yatim piatu ini sesalu
melakukan kegiatannya mulai dari jam 11 siang sampai jam 5 sore.
Dengan gaya
yang nyentrik bak manusia patung mereka melakukan bakti sosial untuk anak yatim
piatu yang tidak mampu.
Karena gaya yang nyentrik tersebut masyarakat dengan
mudah menemukan mereka diantara sesaknya kendaraan bermotor. Hal ini dikarena
mereka biasanya berada tepat dikawasan lampu merah yang ramai dengan pengguna
kendaraan bermotor, mulai dari kawasan buah batu, gasibu, bahkan hingga ke kawasan
cihampelas.
“Berawal dari meminta
lalu memberi” ya itulah moto sederhanya yang ditanamkan dalam komunitas silver
peduli. Dengan sepenggal kalimat tersebut menggambarkan bahwa kesederhanaan
tidak menghalangi untuk beramal. Menurut salah satu anggota komunitas silver
peduli yaitu Wawan menuturkan, dia bergabung dengan komunitas silver peduli
karena ingin bekerja sambil beramal. “awalnya
saya melihat banyak anak yatim piatu yang terlantar didaerah saya, mereka tidak
terangkul oleh yayasan yatim piatu, bahkan ketua Rt dan Rw tidak peduli.
Disitulah saya mulai tergerak untuk menolong mereka dengan menjadi anggota
komunitas silver peduli.” Ucap Wawan kamis (15/11). Komunitas
silver peduli yang diketuai oleh Sule mahasiswa STSI ini tidak bekerjasama
dengan yayasan yatim piatu manapun. Mereka murni memberikan sumbangan kepada
anak yatim piatu yang mereka kelola sendiri. Bahkan Wawan sendiri untuk saat
ini menafkahi 12 anak yatim piatu dirumahnya.
Bermodalkan badan yang
dilumuri cat khusus body painting dan sebuah kardus bekas yang bertulisan peduli yatim piatu,
mereka berjalan diantara mobil-mobil yang sedang mengantre di lampu merah.
Lebih
lanjut Wawan menjelaskan bahwa, Komunitas silver peduli merupakan komunitas sosial
yang di legalkan oleh pemerintah. ” Dulu kita sering dirazia oleh dinas sosial
ataupun satpol pp. Tetapi setelah ketua komunitas silver peduli menunjukan
fakta-fakta yang ada, bahwa komunitas ini memang bertujuan baik, maka pihak
pemerintah memberi izin.
Bahkan pihaknya ingin mengganti kata-kata peduli yatim
piatu menjadi bakti sosial untuk yatim piatu dan dibawah naungan departemen sosial”
selain itu, Wawan menjelaskan bahwa stigma negatif masyarakat terhadap
komunitas silver peduli tidak menjadi beban pribadi. “saya tidak memperdulikan
masyarakat yang mencibir komunitas kami, sejauh kami bekerja dijalan Allah maka
terserah mereka mau bilang apa.” Ungkapnya mengakhiri.
Posting Komentar