“Padamu Persib Kami Berjanji, Padamu Persib Kami Berbakti, Padamu Persib Kami Berjanji, Bagimu Persib Jiwaraga Kami…”
Itulah nyanyian yang sering terdengar
jika tim sepakbola Persib Bandung sedang bertanding. Lagu tersebut merupakan
jiplakan dari lagu “bagimu negeri” yang diciptakan oleh kusbini pada tahun
1952. Bedanya hanya dalam satu kata dalam lirik lagu tersebut.
Kata-kata negeri diganti dengan
kata-kata Persib. Semua itu tidak lain untuk mendukung tim Persib bandung. Bagaimana
tidak, Persib seolah menjadi maskot dan kebanggaan warga Jawa Barat. Hal ini
terbukti jika Persib sedang bertanding, entah itu di Stadion Siliwangi ataupun Stadion Si Jalak
Harupat pasti para Bobotoh (pendukung) berbondong - bondong datang ke stadion
tersebut. Hal tersebut bisa menjadi tolak ukur bahwa Persib sangat di idolakan
oleh warga Jawa Barat.
Sejak didirikannya Persib ditahun 1933
sampai sekarang ini, Persib telah menjadi icon
kota Bandung. Bagaimana tidak, keberhasilan Persib merengkuh juara Liga
Indonesia pertama pada tahun 1995 menjadikan Persib sebagai tim yang perkasa
dengan mengalahkan tim-tim sepakbola lainnya.
Selain frestasi dan reputasi Persib di
Indonesia, faktor satu-satunya tim sepakbola yang mewakili Jawa Barat pada saat
itulah yang menjadikan persib sangat di cintai warga Jawa Barat, kususnya
masyarakat kota Bandung.
Persib yang saat itu tidak diperkuat
pemain asing berhasil menembus dominasi tim-tim eks Galatama yang merajai babak
penyisihan dan menempatkan tujuh tim di babak delapan besar. Persib akhirnya
tampil menjadi juara setelah mengalahkan Petrokimia Putra melalui gol yang
diciptakan oleh Sutiono Lamso pada menit ke-76.
Tidak bisa dipungkiri bahwa sampai
saat ini Persib menjadi tim sepakbola papan atas yang dihuni para pemain
terbaik di Indonesia. Kesuksesan Persib dan kecintaan masyarakat Bandung
terhadap Persib tidak disia-siakan oleh para politikus. akhir-akhir ini banyak
figur-figur yang mencalonkan kepala daerah mendompleng nama Persib guna meraih
suara banyak.
Seperti diketahui dibeberapa sudut
kota Bandung banyak terpampang calon gubernur Jawa Barat periode mendatang yang
sengaja memasang iklan baligho dengan embel-embel Persib. Tentu saja, pemasangan
iklan tersebut guna meraih suara dukungan dari para Bobotoh yang jumlahnya
mencapai puluhan ribu.
Selain itu, tidak bisa dipungkiri
bahwa Persib bandung menjadi ajang bisnis. Banyak investor yang menanam saham
di Persib dan banyaknya sponsor yang mensponsori dan bekerja sama dengan Persib.
Hal tersebut membuat persepakbolaan menjadi bisnis yang menjanjikan. Akan
tetapi dalam hal ini, bisa disebutkan sebagai hal yang mutualisme. Bagaimana
tidak, Persib kini tidak membutuhkan dana dari pemerintah daerah lagi. Hal
tersebut dikarenakan keuntungan finansial yang Persib terima dari berbagai
sponsor cukup untuk memenuhi semua kebutuhan tim persib.
Tentu saja, cerita-cerita indah
tentang Persib Bandung kurang lengkap tanpa kehadiran Viking. Viking adalah sebutan
untuk para pendukung Persib Bandung yang diresmikan pada tanggal 17 juli 1993. bahwa
nama Viking terinspirasi dari nama sebuah suku bangsa yang mendiami kawasan
Skandinavia (Eropa Utara).
Tidak hanya punya sifat yang keras dan
berani, suku bangsa tersebut juga terkenal dengan kegigihan, kesolidan,
patriotis, berjiwa penakluk, pantang menyerah, serta senang menjelajah
(berpetualang). Sifat dari suku bangsa Viking dinilai tepat mencerminkan
karakter dan semangat yang hendak ditonjolkan. Maka disepakati Viking Persib
sebagai nama dari klub suporter pengusung Persib Bandung. Sangat kreatif dan filosofis bukan?
Cerita tentang kreativitas Viking
memang tiada habisnya. Lihat saja ‘penampilan’ mereka ketika mendukung Persib Bandung bermain. Sepanjang 2x45 menit, para
Bobotoh tak lelah bernyanyi dan memberikan dukungan semangat bagi Persib.
Berbagai yel-yel kreatif pun mereka ciptakan.
Tingginya daya kreatif Viking juga terlihat
dari berbagai atribut dengan desain khasnya. Atribut-atribut seperti kaos,
slayer, topi, bendera, jadi penanda bahwa mereka adalah Bobotoh, para
pendukung setia dari Persib Bandung. Perhatikan pula logo-logo dari Viking.
Selain jumlahnya yang beragam, secara
kualitas pun desain logo yang dibuat sangat kreatif. Mencitrakan sebentuk karya
seni yang layak diapresiasi. bukan asal-asalan atau seadanya.
Pada saat ini,
ketika sepakbola sudah menjadi industri, peranan Bobotoh buat Persib pun menjadi
berkembang tidak hanya sebagai objek pelengkap saja. Bobotoh menjadi bagian
dari prestasi dan keberhasilan yang dicapai oleh Persib.
Berangkat dari
sana, Viking pun mulai
mengembangkan sayapnya dalam berbagai bentuk aktualisasi diri, mulai dari
peningkatan pengkoordiniran massa dengan dibentuknya “distrik” di berbagai
wilayah pada kantung-kantung Bobotoh, Penjualan Merchandise, pembuatan album
kompilasi Persib, hingga tour organizer yang menyelenggarakan pemberangkatan rombongan Bobotoh ketika mendukung Persib apabila bermain tandang. intinya, supporter harus menjadi pemain ke-12! Dan Viking ingin menjadi pemain ke-12 bagi Persib.
Cerita indah tentang Viking nampaknya
tidak sesuai dengan aplikasinya. Notabenya Viking di bentuk agar menjadi pemain
ke 12 bagi Persib tapi nyatanya citra Viking di mata masyarakat tercoreng
akibat aksi-aksi anarkis yang dilakukan oknum yang senantiasa mengatas namakan
dirinya Viking.
Memang benar, aksi anarkis suporter sepak bola di Indonesia sudah menjadi budaya
baru. Potensi untuk terjadi aksi anarkis selalu ada di setiap pertandingan
sepakbola. Tapi stigma negatif yang sudah melekat pada Viking sangat terasa di Jawa
Barat. Seperti dalam hukum alam bahwa tiada sebab tanpa akibat, maksudnya
stigma negatif yang Viking terima adalah sebuah konsekuensi akibat seringnya
aksi anarkis yang dilakukan oleh Viking.
Jika Persib menang, maka berpestalah
para bobotoh dalam merayakannya. Namun bila Persib kalah, tidak lantas
pertandingan tersebut jadi rusuh. Sebenarnya sangat jarang suatu pertandingan
yang ada Vikingnya maka berakhir dengan aksi anarkis.
Hanya ada beberapa. Tapi oleh media,
kasus kerusuhan atau aksi anarkis yang sedikit itu selalu diangkat dan
dibesar-besarkan (diblow-up). Ini wajar-wajar saja mengingat sifat media yang
memang mencari berita-berita seperti itu. Bad news is good news. Oplah atau rating meningkat.
Maka keuntungan finansial pun
didapatkan. Stigma negatif sebagai
tukang rusuh jadi melekat pada Viking. Dan untuk sekarang ini, stigma tersebut
sulit untuk dihapuskan.
Kita lihat saja, beberapa saat sebelum
Persib bertanding maka jalan raya seolah
menjadi neraka bagi para pengendara kendaraan bermotor. Bagaimana tidak, aksi
anarkis Viking sangatlah membahayakan pengendara lain. Seperti dengan
ugal-ugalan dijalan dan melakukan anarkisme kepada pengendara lain yang tidak
memberikan jalan.
Alhasil, dari pihak kepolisian akan
bertindak tegas bila ada oknum Viking yang melakukan aksi anarkis di jalanan.
Sampai sekarang ini, bila melakukan perjalanan menuju stadion tempat
terselanggaranya pertandingan persib, tidak jarang menemui aparat kepolisian
yang dipersenjatai setidaknya oleh bambu.
Saya tidak habis pikir kenapa ada
anggota polisi yang sedang berjaga dipersimpangan jalan harus memegang bambu.
Mungkin saja untuk memukul para oknum Viking yang melakukan aksi anarkis,
mungkin untuk mempersenjatai diri dari aksi anarkis, ataupun bambu tersebut
adalah bambu hasil rampasan dari oknum Viking yang melakukan aksi anarkis! Saya
rasa hal tersebut menjadi tanda tanya besar.
Menurut saya, dari pihak kepolisian
harus mempunyai dua opsi dalam menindak aksi anarkis yang dilakukan oleh oknum
Viking. Opsi pertama bila ada oknum Viking yang anarkis di jalan raya, polisi
berhak menilang dan melakukan hukuman yang sesuai dengan hukum yang berlaku.
Opsi yang kedua, jika tindak anarkis sudah dibatas wajar. Artinya aksi anarkis
sudah merugikan masyarakat atau menimbulkan korban, maka polisi berhak menindak
tegas dan berhak mempersenjatai dirinya dengan persenjataan yang sesuai
ketentuan.
Selain dijalan raya, aksi anarkispun
tak luput didalam stadion tempat Persib bertanding. Sepanjang pelaksanaan liga
atau kompetisi sepak bola di Indonesia, bentrok antar suporter dari klub kerap
terjadi. Viking
termasuk dalam daftar hitam klub suporter yang doyan melakukan
tindakan anarkis.
Sudah tak terhitung kerugian materi
karena stadion atau sarana publik lainnya yang
mereka rusak. Termasuk juga menimbulkan korban jiwa dalam bentuk suporter yang
luka berat maupun ringan.
Bahkan pada kompetisi bola tahun
2008-2009, Viking sempat terkena sanksi larangan memberikan dukungan bagi klub
kesayangan mereka (Persib) ketika bertanding. Hal itu dikarenakan kerusuhan
yang mereka buat ketika Persib mengalami kekalahan. Viking pun diidentikkan
sebagai pendukung pembuat rusuh, pengacau serta pembuat onar dan banyak lagi
citra negatif yang dilekatkan kepada Bobotoh dari Kota Kembang itu.
Banyak aksi anarkis yang dilakukan Viking
disekitaran stadion Persib. Entah itu mulai dari botol-botol yang dilempar ke
lapangan, menjebol gerbang stadion, merusak pasilitas dan yang paling sering
yaitu melakukan rasisme dengan yel-yel atau lagu yang dinyanyikan.
Saya rasa tindak anarkis yang
dilakukan oleh oknum yang mengatas namakan Viking harus segera diberantas.
Karena jika hal tersebut berlarut-larut dibiarkan maka imbasnya, citra Viking
akan semakin tercoreng dan rasanya semua aksi anarkis dan rasisme dalam
sepakbola susah untuk dihilangkan. Seolah tindakan tersebut menjadi bumbu
pelengkap dalam sepakbola, tentunya sepakbola Indonesia.
Tapi, itu hanya sekelumit wajah buram
dari keberadaan bobotoh yang melakukan aksi anarkis. Pandangan sebelah mata
yang diberikan masyarakat terhadap Viking mungkin wajar-wajar saja. Hal
tersebut terjadi karena masyarakat sudah geram degan tindak anarkis yang
dilakukan oleh Viking. Meskipun sering dicitrakan negatif oleh banyak media
massa dan masyarakat, sesungguhnya Viking didirikan dengan antusias khas anak
muda. Meluap-meluap dan sarat dengan energi kreativitas.
Untuk itu, masyarakat jawa barat, kususnya
kota bandung. harus bisa melihat dari sisi lain tentang Viking. Karena dibalik
cerita kelam. Banyak kreativitas dan nilai sosial yang Viking lakukan seperti
loyalitas pada persib yang notabenya sebagai perwakilan kota Bandung. Tidak
jarang Vikingpun menyelanggarakan aksi sosial seperti donor darah, pengumpulan
dana untuk membantu membangun Persib, dan melakukan acara amal lainnya.
Hanya saja acara-acara seperti itu
tidak terlalu di blow-up oleh media masa. Fungsi media masa yang dapat
mempengaruhi masyarakat sangat berperan dalam membentuk citra positif Viking
dimata masyarakat. Oleh karena itu, harusnya media masa tidak selalu memojokan Viking
dengan pemberitaan-pemberitaan tentang aksi anarkisnya saja tetapi aksi
positifnya harus di angkat keranah publik.
Posting Komentar