Stigma Tentang Jurnalisme Warga

Perkembangan media massa yang selaras dengan kemajuan teknologi merupakan alasan paling utama dalam pembentukan jurnalisme warga. Jurnalisme warga pada saat ini menjadi buah bibir yang sering dibicarakan masyarakat umun.

Hal ini terjadi karena stigma-stigma yang berkembang di masyarakat tidak semuanya berbuah manis. Sebagian  masyarakat ada yang menolak ataupun tidak senang dengan hadirnya aliran baru dalam jurnalistik yaitu jurnalisme warga.

Hal tersebut terlintas ketika membicarakan tidak adanya kode etik jurnalisme warga dan undang-undang yang siap melindungi para jurnalisme warga. Selain hal itu, jurnalisme warga lebih bersifat preman atau seenaknya. Maksudnya, tak sedikit  jurnalisme warga membuat suatu laporan peristiwa yang memang tidak tahu kaidah penulisan berita.


Mereka membuat berita tanpa melihat gaya bahasa, EYD yang baik dan salah penulisan jabatan dan sebagainya. Setidaknya beberapa alasan tadi bisa menguatkan jika stigma negatif tentang jurnalisme warga di masyarakat memang telah berkembang luas.

Sebagai seorang jurnalis kita harus mampu memandang sesuatu polemik dari dua sudut pandang. oleh karena itu, sebelum kita menafsirkan bahwa jurnalisme warga itu negatif alangkah baiknya kita mengkaji lebih dalam lagi. Karena tidak sedikit pula masyarakat yang setuju bahkan mendukung jurnalisme warga.

Dengan jurnalisme warga, masyarakat bisa mendapatkan informasi yang terkadang lebih berharga dari karya wartawan profesional. Contohnya pada saat tsunami Aceh pada tahun 2004. Hasil dari jurnalisme warga lebih disukai oleh masyarakat.

Hal tersebut meskipun vidio amatir akan tetapi menjadi buah bibir yang manis di masyarakat luas. Wartawan yang tidak bisa selalu standbye meliput semua peristiwa yang ada, menjadikan jurnalisme warga lebih disoroti publik.

Bahkan pada saat tragedi tsunami di Aceh, hampir semua media televisi menayangkan rekaman hasil jurnalisme warga. Selain itu, saat ini media televisi menyediakan rubrik-rubrik kusus liputan warga untuk ditayangkan pada salah satu segment berita.

Maka bisa kita tarik kesimpulan bahwa jurnalisme warga memang membantu proses peliputan peristiwa yang terjadi.
Sebagai penutup saja, saya-penulis ingin memberitahukan jika seorang jurnalis yang baik tidak boleh memihak ataupun menilai sesuatu polemik dalam satu sudut pandang. Oleh karena itu, silahkan anda menafsirkan sendiri apakah jurnalisme warga itu positif ataupun negatif.***

Related Post



Posting Komentar